Pages

Friday, January 6, 2012

PT. Elnusa Tbk at Glance

by Etrading Securities

PT Elnusa Tbk merupakan perseroan yang bergerak pada bidang minyak dan gas. Perseroan, melalui anak perusahaannya menawarkan jasa yang mencangkup geophysical data, drilling, dan jasa oilfield. Elnusa juga memberikan jasa informasi teknologi kepada industri minyak layaknya perusahaan lain. Dengan kepemilikan terbesar yaitu PT Pertamina (Persero) sebesar 41.67%, selanjutnya dipegang oleh PT Benakat Petroleoum Energy sebesar 37.67%, Lucy Sycilia selaku Direksi sebesar 0.01% dan sisanya dimiliki public sebesar 21.76%.

Key Issue 2011&2012

Perseroan memproyeksi Rugi bersih untuk tahun 2011 sebesar Rp55 miliar atau turun 185 persen dibanding laba bersih tahun 2010 sebesar Rp64 miliar akibat penerapan standar akuntansi yang baru yaitu International Financial Reporting Standard (IFRS) sebagai pengganti dari Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Kinerja perseroan tahun ini terjadi penurunan oleh sejumlah kendala, di antaranya beberapa proyek besar yang ditunda dan tidak direalisasikan oleh kontraktor migas. Beberapa proyek itu antara lain di Sumatera, Kalimantan, Natuna dan Papua yang berkontribusi negatif pada laba bersih perseroan. Pada tahun 2012 Perseroan akan meningkatkan profitabilitas dengan lebih memprioritaskan segmen

oilfield services dibandingkan jasa seismic yang bermargin lebih kecil. Investasi pada oilfield tahun 2012 didukung dengan capex sebesar US$ 34.6 million.

Elnusa Estimates its Performance in 2011F

Dalam paparan Public Expo Elnusa pada Desember 2011. Perkiraan kinerja Elnusa di akhir tahun 2011 memperlihatkan hasil dibawah ekspektasi walau sempat pada 9M11 persero mencatat laba bersih sebesar Rp49 miliar. Dapat dilihat melalui grafik bar dibawah ini, menujukkan laba bersih di 2011F merosot tajam yaitu turun 185.94 persen menjadi Rp-55 miliar dibandingkan FY2010. Walaupun pendapatan terlihat naik dari Rp4,211 miliar menjadi Rp4,610 miliar pada 2011F, kenaikan ini diikuti pula dengan kenaikan harga pokok penjualan. Bisa dilihat dari penurunan laba kotor sebesar 9.51 persen yaitu menjadi Rp371 miliar pada 2011F dari Rp 410 miliar pada FY2010. Disusul dengan biaya operasi yang meningkat dan tingkat utilisasi alat operasi yang rendah berakibat pada laba operasi yang turun signifikan pada level 37.31 persen mejadi Rp84 miliar dibanding periode sebelumnya yaitu Rp134 miliar. Konvergensi dari PSAK menjadi IFRS, hal tersebut berdampak pada kenerja profitabilitas perseroan yang tercermin pada rugi bersih sebesar Rp55 miliar, yang merupakan penyisihan kerugian yang harus dibebankan akibat adanya beberapa kontrak yang tertunda dan tidak adanya realisasi dari kontraktor Migas.

Our View (Target Price Rp 250,-)

Kondisi perekonomian yang baik tidak banyak membantu kondisi perseroan, permasalahan penurunan kinerja persero lebih diakibatkan kinerja produktivitas operasi yang kurang stabil. Selain pada penundaan dan tidak terealisasinya kontrak yang berdampak pada kerugian bersih hingga Rp 55 miliar, perseroan juga mengalami kekalahan sebesar 30% tender dari total tender yang diikuti dalam hal harga penawaran yang diajukan, peralatan teknis, dan kompetensi. Di tahun 2012 tidak adanya capex untuk pembiayaan geosciences services dan drilling services dikarenakan jasa ini belum optimal. Bisa dilihat dari gross margin yang menurun dari 9.74% pada FY2010 menjadi 8.05% pada 2011F akibat kontribusi negatif dari jasa seismic.

No comments:

Post a Comment